Apa mau dikata...
Kau ayu berkerudung pelangi senja
Indah kau punya binar mata
Aku luruh jatuh dalam segara
Kita goyah lemah sama
Jika cinta sudah menyatru sukma
Mestinya tak ada beda...
Maka sayangku, terbanglah ke angkasa raya...
Dari kamar sempit, sunyi, engkau sendiri...
Di atas awan putih kita bercengkerama
Dengan sayap rapuh, luka, kepak tertatih
Sedapat mungkin kau akan ku jaga...
Terbang, terbanglah sayangku...
Bermainlah bebas seolah kau kanak kembali
Di atas sini aku akan selalu menemani...
(untukmu yang selalu ingin terbang...?)
Wednesday, September 12, 2007
KITA...KITA DAN KITA.....
Melihatmu terlelap pulas di bahuku, manisku...
Itu yang ku mau
Menatap jernih matamu, membalut luka hatimu, sayangku...
Itu yang ku mau
Menyaksikanmu terjaga, bercanda, menangis bahagia, cintaku...
Itu yang ku mau
Muda kita bersama
Menua kita tak terbelah...
Hanya ada kita, kita dan kita...
Itu yang ku mau
Menatap jernih matamu, membalut luka hatimu, sayangku...
Itu yang ku mau
Menyaksikanmu terjaga, bercanda, menangis bahagia, cintaku...
Itu yang ku mau
Muda kita bersama
Menua kita tak terbelah...
Hanya ada kita, kita dan kita...
Sunday, September 9, 2007
Pusi baru yang ke -3
Seorang lelaki yang selalu menengadahkan wajahnya pada langit malam
Mencari bulan ataupun bintang yang kadang selalu menghilang...
Lewat tengah malam mengelam...
Hanya ada langit merah seperti darah
Mendung tanpa hujan yang tak berkesudahan...
Aku memikirkanmu akhir-akhir ini
Apa iya kau mau jadi bini...?
Di kamar sempit mungkin kita enggan berbagi
Tertawa, menggoda seolah remaja kembali...
Kau cantik berbusana yang putih
Manis jika pakai yang merah...
Cintakah...? atau suka saja...
Tak ada beda toh hati sudah membatu
Aku mau kau jadi ratu
Sudahlah...kau pilih saja aku yang ada
Bersama kita menyemai
Benih cinta yang pernah musnah karena badai...
Kurasa kaulah bidadari musim lalu
Yang bakal melumat bibir penantianku
Membunuh sepi-sepiku...
Meniup nyawa baru di tubuhku...
Denganmu aku bagai hidup kembali
Tahun depan bisakah kita bertukar janji...?
Tapi tak perlulah sehidup semati
Asal ada cinta, setia, dan saling mengisi
Sanggup berbagi sampai sebenarnya mati...
Mencari bulan ataupun bintang yang kadang selalu menghilang...
Lewat tengah malam mengelam...
Hanya ada langit merah seperti darah
Mendung tanpa hujan yang tak berkesudahan...
Aku memikirkanmu akhir-akhir ini
Apa iya kau mau jadi bini...?
Di kamar sempit mungkin kita enggan berbagi
Tertawa, menggoda seolah remaja kembali...
Kau cantik berbusana yang putih
Manis jika pakai yang merah...
Cintakah...? atau suka saja...
Tak ada beda toh hati sudah membatu
Aku mau kau jadi ratu
Sudahlah...kau pilih saja aku yang ada
Bersama kita menyemai
Benih cinta yang pernah musnah karena badai...
Kurasa kaulah bidadari musim lalu
Yang bakal melumat bibir penantianku
Membunuh sepi-sepiku...
Meniup nyawa baru di tubuhku...
Denganmu aku bagai hidup kembali
Tahun depan bisakah kita bertukar janji...?
Tapi tak perlulah sehidup semati
Asal ada cinta, setia, dan saling mengisi
Sanggup berbagi sampai sebenarnya mati...
Thursday, September 6, 2007
Akhirnya Puisi Baru, walau pake bahasa lama ^^
Sejauh apakah kau membuatku hidup kembali manisku..?
Perempuan yang binar matanya seperti purnama malam itu...
Hatimu masihkah serapuh dahulu, diam dan membeku..?
Kau lihat aku yang begitu kasar, keras, dan membatu...
Tak ada kata cinta yang bisa kuucapkan...
Tak ada rayuan sayang yang bisa kuumbar...
Dapatkah kita berbicara sebentar dengan bahasa yang tak semua manusia memahaminya ?
Bahasa ketulusan...kejujuran...
Dan jika telah memahaminya, masihkah engkau membiarkan aku sekedar membuatkan sarapan untukmu..?
Sekedar mengucapkan selamat tidur, sebagai pengganti membenarkan letak selimutmu..?
Mencoba memberikan apa yang kau inginkan dengan caraku sendiri...
Berusaha memahami sisi lain dirimu dengan caraku sendiri...
Meski bayangan masa lalumu dan masa laluku mengejar, menghantui, hingga membuat hati kita mati...
Jika saja aku dapat menggenggam tanganmu, meneguhkan pendirianmu...
Dan dengan begitu, aku sendiri pun akan menjadi lebih kuat...
Maka kita bisa tak sekedar saling tersenyum atau tertawa bersama...
Tak ada yang perlu ditakuti atau disesali...
Bila tabir pekat telah terkuak, dan kau mau menyalakan lilin itu...
Menemani aku menyusuri jalan terjal itu, Maka telinga hatimu sudah mampu mendengar suara relung batinku terdalam...
Jiwaku dan jiwamu akan bisa bersatu...dan aku sudah muak menunggu ...
Aku hanya ingin dirimu sayangku, sekarang, atau secepatnya..!!
Perempuan yang binar matanya seperti purnama malam itu...
Hatimu masihkah serapuh dahulu, diam dan membeku..?
Kau lihat aku yang begitu kasar, keras, dan membatu...
Tak ada kata cinta yang bisa kuucapkan...
Tak ada rayuan sayang yang bisa kuumbar...
Dapatkah kita berbicara sebentar dengan bahasa yang tak semua manusia memahaminya ?
Bahasa ketulusan...kejujuran...
Dan jika telah memahaminya, masihkah engkau membiarkan aku sekedar membuatkan sarapan untukmu..?
Sekedar mengucapkan selamat tidur, sebagai pengganti membenarkan letak selimutmu..?
Mencoba memberikan apa yang kau inginkan dengan caraku sendiri...
Berusaha memahami sisi lain dirimu dengan caraku sendiri...
Meski bayangan masa lalumu dan masa laluku mengejar, menghantui, hingga membuat hati kita mati...
Jika saja aku dapat menggenggam tanganmu, meneguhkan pendirianmu...
Dan dengan begitu, aku sendiri pun akan menjadi lebih kuat...
Maka kita bisa tak sekedar saling tersenyum atau tertawa bersama...
Tak ada yang perlu ditakuti atau disesali...
Bila tabir pekat telah terkuak, dan kau mau menyalakan lilin itu...
Menemani aku menyusuri jalan terjal itu, Maka telinga hatimu sudah mampu mendengar suara relung batinku terdalam...
Jiwaku dan jiwamu akan bisa bersatu...dan aku sudah muak menunggu ...
Aku hanya ingin dirimu sayangku, sekarang, atau secepatnya..!!
Puisi baru, malas ngasih judul :(
Siapa salah...?
Jika kau datang, pintu ini hendak tertutup
Mulanya menebar tawa...canda...
simpati saja...?
dusta...?
Cinta...?
Menikam parat ke relung jiwa...
Seperti biasa...
Aku hangus jadi bara
Terbakar matamu
Menyirat tidak terjadi apa-apa
Habis saja aku mengagumimu...bagai pualam tanpa jelaga
Hidupku yang merapat di hidupmu
Jadi apa aku jika engkau tiada...?
Terbang berkejaran bukan di langitku
Sayapku sudah remuk, hancur...patah pula...
Ah...senyum itu mestinya jadi pelipur lara
Meski sakit, kutahan jua tak terkira...
Sepadanlah...kau jadi obat jiwa
Jika enggan...? Kucari beribu cara
Agar aku tinggal di hatimu selamanya
Apa lacur...? semua sudah terlanjur...
Aku semakin hancur...
Jadi makin kugarami saja luka di hati ini
kutulis juga ini sambil meringis
Menangis...? sudah lama tidak bisa lagi...
Denganmu sebenarnya aku hanya ingin berbagi
Di sini...di puing-puing ini...
Kita bisa tegak berdiri...
Menyatu hati...
Tidak perlulah menyepi...
Sendiri-sendiri...
Seperti ini...
(Tengah malam sehabis 2 batang rokok...ternyata aku benar cinta padamu...)
Jika kau datang, pintu ini hendak tertutup
Mulanya menebar tawa...canda...
simpati saja...?
dusta...?
Cinta...?
Menikam parat ke relung jiwa...
Seperti biasa...
Aku hangus jadi bara
Terbakar matamu
Menyirat tidak terjadi apa-apa
Habis saja aku mengagumimu...bagai pualam tanpa jelaga
Hidupku yang merapat di hidupmu
Jadi apa aku jika engkau tiada...?
Terbang berkejaran bukan di langitku
Sayapku sudah remuk, hancur...patah pula...
Ah...senyum itu mestinya jadi pelipur lara
Meski sakit, kutahan jua tak terkira...
Sepadanlah...kau jadi obat jiwa
Jika enggan...? Kucari beribu cara
Agar aku tinggal di hatimu selamanya
Apa lacur...? semua sudah terlanjur...
Aku semakin hancur...
Jadi makin kugarami saja luka di hati ini
kutulis juga ini sambil meringis
Menangis...? sudah lama tidak bisa lagi...
Denganmu sebenarnya aku hanya ingin berbagi
Di sini...di puing-puing ini...
Kita bisa tegak berdiri...
Menyatu hati...
Tidak perlulah menyepi...
Sendiri-sendiri...
Seperti ini...
(Tengah malam sehabis 2 batang rokok...ternyata aku benar cinta padamu...)
Subscribe to:
Posts (Atom)