Sunday, November 26, 2006

Sisi lain Gie yang romantis

Soe Hok Gie (1942-1969) adalah seorang aktivis mahasiswa, seorang penggerak, mungkin juga provokator lewat tulisan-tulisannya, seorang pencinta alam, bergelut dengan kehidupannya yng keras. Hmm..mungkin itulah gambaran tentang sosok seorang Gie di mata sebagian orang, dan anggapan-anggapan itu tidak salah juga, tapi saya ingin mencoba menampilkan sisi lain seorang Soe Hok Gie yang tidak saja sederhana namun juga romantis....

Tidaklah aneh sebenarnya jika Gie romantis, sebagai pencinta alam yang sering bersentuhan langsung dengan alam, pastilah jiwanya terlatih untuk selalu peka tidak saja secara sosial, tapi juga termasuk hal-hal yang lebih pribadi. Saya tidak berhak menulis lebih jauh soal ini, karena hanya orang-orang yang pernah mengenal pribadinya secara langsung saja yang tahu pasti tentang masalah ini. Tapi seperti apa keromantisan dan kesederhanaan cinta seorang Soe Hok Gie dapat "terbaca" kiranya jika kita melihat dokumentasi tentang Gie (seperti yang pernah METRO TV tayangkan lewat program acara Metro Files), atau lewat tulisan-tulisan Gie yang di bukukan, atau lebih jelas lagi jika kita menyaksikan perjalanan hidupnya lewat film produksi MILES arahan Riri Riza, "GIE".

Benarkah sosok Gie seperti yang digambarkan dalam film itu ? begitu polos, lugu, sederhana dan tulus dalam hal asmara, sampai-sampai kawan-kawannya "tega" mengerjai dengan mendatangkan seorang "cewek panggilan" (dalam film diperankan Happy Salma) untuk menggodanya. Gie nampak tidak terlalu merisaukan kesendiriannya (anak sekarang bilang "ngejomblo"), dia seakan disibukkan idealismenya, sibuk mengajar, naik gunung, atau menginspirasi orang lewat tulisan-tulisan pedasnya. Benarkah semua "kesibukkannya itu adalah semacam "pelarian terselubung" dari bara api di hatinya ?

Entahlah ? saya justru ingin mengetahui itu. Tapi coba anda simak salah satu puisi di film tersebut yang tertanggal 17 November 1969 :

"Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku....

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku...

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku...
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak akan pernah kehilangan apa-apa"

Wow..! jujur saya terharu ketika menonton adegan dimana narasi puisi ini dibacakan (tak heran Sita Nursanti diganjar Best Crying Scene oleh MTV), dan kedua kalinya menonton film ini (di TRANS tv) saya seolah terbawa dan mengerti akhirnya apa yang Gie rasakan dalam hatinya tentang cinta. Tidak sulit dan sangat sederhana kelihatannya apa yang menjadi harapan seorang Gie, namun jujur saja, tidak banyak yang bisa mewujudkan harapan ini. Kadang kita menilai cinta sebagai perkara yang rumit, sulit,kompleks,bla...bla...bla....

Yah, Gie telah menginspirasi kita (setidaknya saya) sekali lagi. Waktu hidup yang Tuhan berikan buat kita teramat singkat, alangkah indahnya kita bisa habiskan bersama orang-orang yang kita cintai dan (lebih indah lagi) mencintai kita. Saya yakin, jauh di lubuk hati, apa yang menjadi harapan Gie adalah harapan kita juga, hanya saja kita terlalu "angkuh"atau "takut" untuk mengakuinya. Gie sendiri mengakui itu di saat-saat akhir kehidupannya, setelah dia "lelah berlari", berkutat dengan kesibukannya.

Jadi sudahkah kita "memperjuangkan" hidup kita agar lebih ceria, berwarna, bersama orang-orang terkasih hingga akhir hayat kita ?

No comments: