Menanti ujung malam dalam indahnya kesendirian
Sunyi...senyap....hanya degup jantung dan desah nafasku berbincang
Langit kelam...tak ada bintang yang biasa kuhitung satu demi satu
Alam raya pulas tertidur, terlelap dalam mimpi-mimpi panjang
Namun bukan mimpi-mimpiku.....
Terpekur menatap secarik kertas usang berdebu
Puisi yang tak pernah terselesaikan
Temaram lampu kamar menambah peka imajinasi suram....
Biarkan hidupmu mengalir tak tentu arah
Kelak akan kau temukan jua hakikat kehidupan : "Sekumpulan penantian yang memuakkan, membuatmu ingin melemparkan sesuatu dengan kekuatan penuh, membuatmu ingin berteriak sekeras-kerasnya di ujung-ujung tebing, atau pada lembah-lembah, lalu jatuh tersungkur, menangis, meratapi diri."
Ah...hidup mungkinkah pula sekumpulan penyesalan tanpa pernah kita tahu apa yang disesali. Satu kebodohan atau beribu kebodohan ? Entahlah...segalanya tampak buram....
Aku ingin hidup dalam dunia mimpiku selamanya
Berkelana tanpa ingin kembali lagi dalam kenyataan
Karena mimpi buruk pun masih lebih indah dari kenyataan
Sementara kenyataan yang indah selalu menyiratkan kepedihan
Jika tidak bagi kita, maka orang lain
Aku ingin terbang bebas tanpa ada batas yang mengikat, tidak juga keterjagaan
Karena keterjagaan hanya diperuntukkan bagi mereka yang menyukai kebohongan-kebohongan, mempersempit jalan pikiran mereka sendiri...
Imaji yang terkekang tak tersalurkan, mengendap lalu meletup dalam luapan emosi
Suatu kebodohan manusia yang lain membuatku semakin lelah merenungkannya
Lamunan yang tak berarti...enyahkan saja...
Ujung malam belum lagi tiba, aku sudah terlelap dalam mimpi-mimpiku sendiri
MIMPIKU...bukan kamu, dia, atau mereka....
Monday, December 4, 2006
Sunday, November 26, 2006
Sisi lain Gie yang romantis
Soe Hok Gie (1942-1969) adalah seorang aktivis mahasiswa, seorang penggerak, mungkin juga provokator lewat tulisan-tulisannya, seorang pencinta alam, bergelut dengan kehidupannya yng keras. Hmm..mungkin itulah gambaran tentang sosok seorang Gie di mata sebagian orang, dan anggapan-anggapan itu tidak salah juga, tapi saya ingin mencoba menampilkan sisi lain seorang Soe Hok Gie yang tidak saja sederhana namun juga romantis....
Tidaklah aneh sebenarnya jika Gie romantis, sebagai pencinta alam yang sering bersentuhan langsung dengan alam, pastilah jiwanya terlatih untuk selalu peka tidak saja secara sosial, tapi juga termasuk hal-hal yang lebih pribadi. Saya tidak berhak menulis lebih jauh soal ini, karena hanya orang-orang yang pernah mengenal pribadinya secara langsung saja yang tahu pasti tentang masalah ini. Tapi seperti apa keromantisan dan kesederhanaan cinta seorang Soe Hok Gie dapat "terbaca" kiranya jika kita melihat dokumentasi tentang Gie (seperti yang pernah METRO TV tayangkan lewat program acara Metro Files), atau lewat tulisan-tulisan Gie yang di bukukan, atau lebih jelas lagi jika kita menyaksikan perjalanan hidupnya lewat film produksi MILES arahan Riri Riza, "GIE".
Benarkah sosok Gie seperti yang digambarkan dalam film itu ? begitu polos, lugu, sederhana dan tulus dalam hal asmara, sampai-sampai kawan-kawannya "tega" mengerjai dengan mendatangkan seorang "cewek panggilan" (dalam film diperankan Happy Salma) untuk menggodanya. Gie nampak tidak terlalu merisaukan kesendiriannya (anak sekarang bilang "ngejomblo"), dia seakan disibukkan idealismenya, sibuk mengajar, naik gunung, atau menginspirasi orang lewat tulisan-tulisan pedasnya. Benarkah semua "kesibukkannya itu adalah semacam "pelarian terselubung" dari bara api di hatinya ?
Entahlah ? saya justru ingin mengetahui itu. Tapi coba anda simak salah satu puisi di film tersebut yang tertanggal 17 November 1969 :
"Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku....
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku...
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku...
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak akan pernah kehilangan apa-apa"
Wow..! jujur saya terharu ketika menonton adegan dimana narasi puisi ini dibacakan (tak heran Sita Nursanti diganjar Best Crying Scene oleh MTV), dan kedua kalinya menonton film ini (di TRANS tv) saya seolah terbawa dan mengerti akhirnya apa yang Gie rasakan dalam hatinya tentang cinta. Tidak sulit dan sangat sederhana kelihatannya apa yang menjadi harapan seorang Gie, namun jujur saja, tidak banyak yang bisa mewujudkan harapan ini. Kadang kita menilai cinta sebagai perkara yang rumit, sulit,kompleks,bla...bla...bla....
Yah, Gie telah menginspirasi kita (setidaknya saya) sekali lagi. Waktu hidup yang Tuhan berikan buat kita teramat singkat, alangkah indahnya kita bisa habiskan bersama orang-orang yang kita cintai dan (lebih indah lagi) mencintai kita. Saya yakin, jauh di lubuk hati, apa yang menjadi harapan Gie adalah harapan kita juga, hanya saja kita terlalu "angkuh"atau "takut" untuk mengakuinya. Gie sendiri mengakui itu di saat-saat akhir kehidupannya, setelah dia "lelah berlari", berkutat dengan kesibukannya.
Jadi sudahkah kita "memperjuangkan" hidup kita agar lebih ceria, berwarna, bersama orang-orang terkasih hingga akhir hayat kita ?
Tidaklah aneh sebenarnya jika Gie romantis, sebagai pencinta alam yang sering bersentuhan langsung dengan alam, pastilah jiwanya terlatih untuk selalu peka tidak saja secara sosial, tapi juga termasuk hal-hal yang lebih pribadi. Saya tidak berhak menulis lebih jauh soal ini, karena hanya orang-orang yang pernah mengenal pribadinya secara langsung saja yang tahu pasti tentang masalah ini. Tapi seperti apa keromantisan dan kesederhanaan cinta seorang Soe Hok Gie dapat "terbaca" kiranya jika kita melihat dokumentasi tentang Gie (seperti yang pernah METRO TV tayangkan lewat program acara Metro Files), atau lewat tulisan-tulisan Gie yang di bukukan, atau lebih jelas lagi jika kita menyaksikan perjalanan hidupnya lewat film produksi MILES arahan Riri Riza, "GIE".
Benarkah sosok Gie seperti yang digambarkan dalam film itu ? begitu polos, lugu, sederhana dan tulus dalam hal asmara, sampai-sampai kawan-kawannya "tega" mengerjai dengan mendatangkan seorang "cewek panggilan" (dalam film diperankan Happy Salma) untuk menggodanya. Gie nampak tidak terlalu merisaukan kesendiriannya (anak sekarang bilang "ngejomblo"), dia seakan disibukkan idealismenya, sibuk mengajar, naik gunung, atau menginspirasi orang lewat tulisan-tulisan pedasnya. Benarkah semua "kesibukkannya itu adalah semacam "pelarian terselubung" dari bara api di hatinya ?
Entahlah ? saya justru ingin mengetahui itu. Tapi coba anda simak salah satu puisi di film tersebut yang tertanggal 17 November 1969 :
"Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku....
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku...
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku...
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak akan pernah kehilangan apa-apa"
Wow..! jujur saya terharu ketika menonton adegan dimana narasi puisi ini dibacakan (tak heran Sita Nursanti diganjar Best Crying Scene oleh MTV), dan kedua kalinya menonton film ini (di TRANS tv) saya seolah terbawa dan mengerti akhirnya apa yang Gie rasakan dalam hatinya tentang cinta. Tidak sulit dan sangat sederhana kelihatannya apa yang menjadi harapan seorang Gie, namun jujur saja, tidak banyak yang bisa mewujudkan harapan ini. Kadang kita menilai cinta sebagai perkara yang rumit, sulit,kompleks,bla...bla...bla....
Yah, Gie telah menginspirasi kita (setidaknya saya) sekali lagi. Waktu hidup yang Tuhan berikan buat kita teramat singkat, alangkah indahnya kita bisa habiskan bersama orang-orang yang kita cintai dan (lebih indah lagi) mencintai kita. Saya yakin, jauh di lubuk hati, apa yang menjadi harapan Gie adalah harapan kita juga, hanya saja kita terlalu "angkuh"atau "takut" untuk mengakuinya. Gie sendiri mengakui itu di saat-saat akhir kehidupannya, setelah dia "lelah berlari", berkutat dengan kesibukannya.
Jadi sudahkah kita "memperjuangkan" hidup kita agar lebih ceria, berwarna, bersama orang-orang terkasih hingga akhir hayat kita ?
Saturday, November 18, 2006
Penyatuan Jiwa-Jiwa (untuk penerima parcel puisi 3 hari sebelum lebaran)
Mungkin kelak kau dan aku hanya saling diam membisu
Tenggelam dalam kesunyian
Tapi saat itu mungkin telinga-telinga hatimu sudah mampu mendengar
Suara-suara relung batinku terdalam
Mungkin kau akan dapati aku hanya terdiam tak berkata-kata
Terlena dalam keheningan yang kuciptakan sendiri
Kau dan aku diselimuti tabir pekat
Dan jika ku bawa sebuah lilin
Apakah akan kau ikuti cahayanya ?
Ataukah akan kau tiup lilin itu hingga padam ?
Tidakkah akan lebih baik jika kau bawa sebuah lilin lagi ?
Agar kita dapat melihat jalan dengan lebih jelas
Mungkin aku hanyalah seonggok tiram yang terluka
Tapi tahukah dirimu ? dalam tubuh tiram yang terluka itu
Ada sebuah mutiara putih elok
Yang kubalut dengan penderitaan dan sakitnya hidup
Mungkin kau sedang berada di atas awan saat aku berteriak
"Hey,aku di sini ! aku di sini !"
Dan saat kau turun kembali mencercah bumi
Masih kukenali nafasmu
Tenggelam dalam kesunyian
Tapi saat itu mungkin telinga-telinga hatimu sudah mampu mendengar
Suara-suara relung batinku terdalam
Mungkin kau akan dapati aku hanya terdiam tak berkata-kata
Terlena dalam keheningan yang kuciptakan sendiri
Kau dan aku diselimuti tabir pekat
Dan jika ku bawa sebuah lilin
Apakah akan kau ikuti cahayanya ?
Ataukah akan kau tiup lilin itu hingga padam ?
Tidakkah akan lebih baik jika kau bawa sebuah lilin lagi ?
Agar kita dapat melihat jalan dengan lebih jelas
Mungkin aku hanyalah seonggok tiram yang terluka
Tapi tahukah dirimu ? dalam tubuh tiram yang terluka itu
Ada sebuah mutiara putih elok
Yang kubalut dengan penderitaan dan sakitnya hidup
Mungkin kau sedang berada di atas awan saat aku berteriak
"Hey,aku di sini ! aku di sini !"
Dan saat kau turun kembali mencercah bumi
Masih kukenali nafasmu
Subscribe to:
Posts (Atom)